Senin, 23 Februari 2015

He's Mine!

Sebenernya ini bukan cerita menarik alias gembel sih 
ya, kalo ga tertarik baca ya gausah dibaca /hush
yak, kalo begitu kita mulai saja ceritanya 8)

Sudah seminggu si nona muda, Alin, duduk di bangku kelas 3 SMA. Tetapi, dia tetap cuek ke pada semua orang di sekitarnya. Makanya, Alin dipandang beberapa orang kurang baik. Tetapi beda dengan Bima, teman sekelasnya yang baru. Alin pun sepertinya jatuh cinta kepada Bima. Suatu hari, Alin dapat tugas kelompok dari gurunya. Sebenarnya, Alin sangat benci hal itu, tetapi mau tidak mau harus dia kerjakan. Ternyata, Alin sekelompok dengan Bima, satu-satunya orang yang berbeda memandangnya.
Sepulang sekolah, Alin dan teman-temannya berkumpul di taman sekolah untuk berdiskusi.

 "Baiklah teman-teman, kita dapat tugas untuk membuat artikel tentang bahaya merokok. apakah di sini ada yang bersedia rumahnya dijadikan tempat bekerja?" Tanya Bima.

Tak ada satu pun yang menjawab pertanyaan Bima, termasuk Alin. Tiba-tiba, Rio, salah satu anak dari kelompok itu berbicara.

"Mungkin Alin bersedia, Bim. Kan rumah dia besar dan berfasilitas lengkap."

Ya. Semua orang di kelas Alin tahu bahwa Alin adalah anak orang kaya.

Alin hanya menatap Rio dengan agak jengkel, tetapi Bima hanya tersenyum.

"Apakah kamu setuju jika kita bekerja di rumahmu, Alin?" Tanya Bima lembut.
"Oh, umm. Ya, sebenarnya sih boleh saja." Jawab Alin dengan nada dingin. Bima pun membalasnya dengan senyuman. Yang lain pun ikut tersenyum.
"Baiklah, karena Alin sudah setuju, kita berkumpul pada hari Sabtu pukul 10 pagi. Bagaimana?"
"Oookkeee!!" Jawab semua serempak. Kecuali Alin.


Waktunya pun tiba. Tetapi, tidak ada satu pun yang datang, kecuali Bima. Bima sudah hampir setengah jam menunggu teman-temannya datang, tapi tak satu pun yang datang. 

"Ini mereka pada ke mana sih! Sudah hampir setengah jam aku menunggu kenapa tak ada yang datang?!" Bima pun kesal. Dia mengetuk-ketuk jamnya sambil berjalan mondar-mandir.
Tak lama, datanglah seorang gadis manis menggunakan mini dress se-lutut keluar dari mobil mewah. Ternyata itu Alin.

"Umm.. ngg... B-Bima.." kata Alin berbicara depan Bima dengan gugup karena tau dia pasti akan dimarahi.
"Kau tau, Alin, ini sudah jam berapa?!" Teriak Bima.
"M-maafkan aku...." Alin menundukkan kepalanya, berbicara dengan nada agak ketakutan. Dia tidak tau kalau Bima saat marah itu menyeramkan.
Bima pun menarik nafas, setelah itu menepuk pundak Alin.
"Yaa, sudah lah tidak apa-apa" Bima pun tersenyum. "Apa kau tau di mana yang lain?" Lanjut Bima.
"T-tidak tau.. a-aku tidak tau.." Jawab Alin.
"Kenapa gagap begitu?" Tanya Bima. Dia pun tertawa kecil.
"D-diamlah kau." Kata Alin sambil mencoba memukul Bima, tetapi Bima menghindar. "Betapa menyebalkannya kau, Bima." Lanjut Alin sambil memutar badannya.
"Hehe." Bima pun menyeringai. "Umm.. aku akan mencoba menghubungi yang lain supaya tidak kelamaan berdiri seperti orang tanpa tujuan di sini." Bima pun mengeluarkan handphone nya, tetapi tidak ada jawaban dari semuanya.
".. Bagaimana?" Tanya Alin.
"Huft.. Semua mungkin masih tidur--" Kata Bima sambil menghela nafas. "Oh ya, bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat saja? Daripada di depan gerbang sekolah begini. Atau mungkin kau bisa menemaniku ke tempat makan, karena sebenarnya aku belum sarapan, hehe."
Alin diam sejenak, lalu membalasnya. "Bolehkah aku menolaknya?" Kata Alin cuek.
"Tidak." Kata Bima tegas.
"Kalau begitu, aku akan menolaknya." Alin pun berjalan menjauh dari Bima sambil mengambil handphonenya dari tas kecilnya. Tapi, sebelum Alin melakukannya, Bima menarik tangannya.
"Ayolah, sebentar saja."
"Tidak mau." jawab Alin.
"Kalau begitu, aku memaksa." balas Bima.
"Siapa peduli."
Bima pun menghela nafas.
"Ah.. apa boleh buat. Kau memang keras kepala."
Alin cuek saja. Dia mengambil handphone nya untuk menelpon supirnya agar menjemputnya.
"Pulang sana." kata Alin sambil menengok ke arah Bima.
"Umm.. Kau pulang naik apa?" Bima tak menghiraukan perkataan Alin tadi.
"Kenapa kau ingin tau?" tanya Alin, tiba-tiba mobilnya sudah di depannya.
"Oh, mobil ya. Aku lupa." Bima senyum-senyum sambil menggaruk kepalanya.
"Bodoh." kata Alin. Ia pun membuka pintu mobilnya, lalu masuk ke dalamnya.
"Baiklah, hati-hati! " Bima tersenyum lembut kepada Alin, tetapi Alin memberikan tatapan dingin.
"Naiklah. " Kata Alin.
"Apa? " Jawab Bima seolah tak percaya.
"Naiklah. Apa kau tidak mendengarnya? " Kata Alin sambil menggeser badannya.
"E-ehh.. tapi, bukannya kau mau pulang? " Bima menengok ke dalam mobil Alin.
"Berisik, cepatlah naik. "
"B-baiklah. "

Bima pun akhirnya naik ke mobil Alin dan duduk di sampingnya. Pintu mobil pun tertutup otomatis dan akhirnya jalan

"Masih lapar? " Tanya Alin ke Bima tanpa menatap matanya, tetapi malah main handphone nya.
"Ehehe, Iya. " Kata Bima sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Kau ingin makan di mana? " Tanya Alin lagi. Kali ini ia menatap mata Bima.
"Umm.. di restoran China favorit ku kurasa. "
"Di mana? "
"Aku lupa namanya apa- mungkin di sekitar belokan di depan itu. " Kata Bima sambil menunjuk belokan setelah lampu merah. "Kalau kau bawa aku ke sana nanti ku traktir loh" lanjut Bima sambil mengedipkan sebelah matanya.
"… Hih, kenapa kamu kedip-kedip begitu---" Kata Alin sambil membuang mukanya, sepertinya mukanya memerah karena malu.
"Karena setiap wanita yang kukedipkan seperti pasti langsung jatuh cinta, haha! " Bima pun tertawa. "Jangan-jangan kau juga jatuh cinta ya makanya langsung membuang muka seperti itu? " lanjut Bima sambil mencoba melihat muka Alin.
"Si bodoh ini apa-apaan sih! " Alin pun mendorong muka Bima.
"Tuh kan, mukanya merah! Haha" Bima tertawa dengan penuh kemenangan.
"D-diamlah! " Alin pun menutupi mukanya dengan tangannya.

Bima pun mencoba melepaskan tangan Alin dari mukanya, setelah itu Bima memegang dagu Alin lalu mendekatkan mukanya ke muka Alin.

"Kalau tidak jujur, nanti aku di rebut orang lain loh. " Kata Bima sambil menyeringai lebar.
"S-siapa peduli! " Alin berusaha mendorong tubuh Bima supaya menjauh, namun gagal.
"Hmm... Benarkah? " Bima pun makin mendekatkan muka nya, dan hampir mencium Alin!
"B-bodoh! Menjauhlah! " Alin masih terus mencoba mendorong tubuh Bima. Mukanya makin memerah.
"Dasar. " Bima pun menjauhkan mukanya dari muka Alin dan duduk seperti semula.
Alin pun menundukkan kepalanya dengan muka yang merah dan panas.
“Bima, cium aku.” Kata Alin sambil menarik lengan Bima.
"Apa aku tidak salah dengar? " Kata Bima sambil menengok ke arah Alin yang menarik lengannya.
"c-i-u-m a-k-u. " Kata Alin sambil mengeja perkataannya per-huruf. Dia pun akhirnya menengok ke arah Bima. Matanya mengeluarkan air mata tanpa sebab.
"Dasar, nona muda yang aneh. " Bima pun tertawa kecil sambil mengelap air mata Alin.
Bima pun mencium bibir sang tuan putri perlahan, setelah itu ia melepaskannya.
"Terima kasih. " Alin kembali menundukkan kepalanya.
"Sama-sama. " Kata Bima sambil tersenyum. Tak lama, Bima berbicara lagi. "Hey, Alin. Sebenarnya.. aku menyukaimu loh dari kelas 1, meski kita dulu belum saling kenal. " 
Akhirnya Bima menungkapkan perasaannya. Tetapi Alin diam saja.
Tiba-tiba Alin menyandarkan kepala nya ke pundak Bima.
"Sebenarnya.. aku pun menyukai mu saat ini. " Balas Alin sambil menatap mata Bima. Bima juga menatap Alin.

Suasana menjadi hening sejenak. Alin pun berbicara.
"Aku benar-benar benci kamu, Bima. " Kata Alin pelan.
"Aku juga mencintaimu, Alin" Bima tertawa kecil.
Alin pun menarik kerah baju Bima, lalu menciumnya.

"Pokoknya, yang boleh memiliki mu, cuma aku." kata Alin.
"Ya, tentu saja, tuan putri." balas Bima sambil memeluknya.

SELESAI

ya kalau begitu saya akan mulai buat ff dengan alur yang random 8D

Curhatan ga penting

Yaakk, hai semua owo)/
jadi sebenernya blogger saya ini ga butuh follower sih /matisana
oke boong.

Niatannya bikin blog ini buat tugas sih sebenernya tapi niatnya buat bikin ff ber-alur random juga sih ;D /ha

atau mungkin kalo niat bikin resep-resep :>
atau mungkin post yang lain-lain /?

ya itu aja curhatan ga penting dari saya, dadah ;D